Masih ingat saat setiap influencer menyuruh Anda “tambahkan ke keranjang sekarang juga,” dan Anda benar-benar melakukannya? Masa-masa itu perlahan memudar.

Pemirsa kini semakin cerdas, lebih skeptis, dan sedikit lelah terus-menerus dijual. Inilah era deinfluencing — sebuah gerakan yang mengutamakan kejujuran dibandingkan hype. Alih-alih mendorong orang untuk membeli, deinfluencer membantu mereka menentukan apa yang tidak layak dibeli dan alasannya.

Kedengarannya seperti kabar buruk bagi pemasar afiliasi, tetapi justru sebaliknya. Di tengah kebisingan brand dan kemitraan berbayar, keaslian adalah mata uang baru dalam membangun kepercayaan. Afiliasi yang menguasai deinfluencing sebagai strategi dapat mengubah transparansi menjadi konversi.

Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana deinfluencing bermula, mengapa pendekatan ini selaras dengan pemirsa masa kini, dan bagaimana afiliasi dapat memanfaatkannya untuk membangun kredibilitas serta keuntungan jangka panjang tanpa hype palsu.

Deinfluencing vs. Influencing

Selama bertahun-tahun, influencing identik dengan aspirasi: feed yang dipoles rapi, daftar “wajib punya”, dan peluncuran produk tanpa henti. Pesannya sederhana: beli ini, dan Anda akan menjadi seperti saya.

Deinfluencing membalikkan narasi tersebut. Alih-alih memberi tahu orang apa yang harus dibeli, pendekatan ini membantu mereka berpikir kritis tentang alasan di balik pembelian. Seorang deinfluencer mungkin berkata, “Anda tidak perlu pelembap $80 ini, ada yang $20 dan hasilnya sama bagus.” Ini bukan anti-pemasaran, melainkan pemasaran yang lebih cerdas.

Perbedaannya terletak pada niat:

Influencing Deinfluencing
Mendorong keinginan dan status Mendorong kepercayaan dan kebijaksanaan
Fokus pada penjualan produk Fokus pada berbagi pengalaman
Menggunakan hype untuk memicu pembelian impulsif Menggunakan kejujuran untuk mendorong keputusan yang lebih sadar
Mengukur kesuksesan dari klik dan penjualan Mengukur kesuksesan dari keterlibatan dan kredibilitas

Bagi para afiliasi, deinfluencing mengubah konsumsi dari “beli sekarang juga” menjadi “beli dengan niat.” Ketika konten didekati dengan kejujuran sebagai prioritas, pemirsa melihat Anda sebagai pemandu, bukan tenaga penjual. Kepercayaan inilah yang mengubah klik sesekali menjadi konversi jangka panjang.

Mengapa Deinfluencing Efektif untuk Afiliasi

Sekilas, menyarankan orang agar tidak membeli sesuatu terdengar seperti strategi afiliasi terburuk. Namun kenyataannya, pendekatan ini justru membangun kepercayaan dan konversi yang lebih kuat dalam jangka panjang.

  1. Deinfluencing membangun kredibilitas: Pemirsa dapat dengan mudah mengenali promosi yang dipaksakan. Ketika Anda jujur tentang produk yang tidak bekerja dengan baik atau saat alternatif yang lebih murah sudah cukup, Anda langsung menonjol. Kejujuran ini membuat rekomendasi berikutnya jauh lebih dapat dipercaya.
  2. Menarik pemirsa yang lelah dengan promosi berlebihan: Media sosial dipenuhi ajakan jualan. Deinfluencing terasa menyegarkan dan mampu menembus kebisingan tersebut. Itulah sebabnya banyak konten deinfluencing menjadi viral karena autentik dan relevan.
  3. Mendorong keterlibatan: Perbandingan jujur seperti konten “saya menyesal membeli ini” atau rekomendasi hemat anggaran memancing diskusi. Orang berkomentar, membagikan, dan menyimpan konten karena mereka mempercayai sudut pandangnya, bukan karena sedang dijuali sesuatu.
  4. Menghasilkan konversi yang lebih baik dari waktu ke waktu: Saat pengikut yakin Anda benar-benar membantu mereka mengambil keputusan yang lebih cerdas, mereka akan lebih cenderung membeli rekomendasi Anda dan kembali lagi. Inilah pertumbuhan afiliasi yang berkelanjutan.

Prinsip Inti Deinfluencing yang Efektif

Deinfluencing hanya berhasil jika terasa nyata. Pemirsa dapat merasakan ketika “kejujuran” hanyalah sudut pemasaran baru, sehingga keaslian menjadi hal utama. Berikut prinsip inti yang perlu dipegang setiap afiliasi.

1. Transparansi

Selalu ungkapkan hubungan afiliasi Anda. Baik dalam video YouTube maupun artikel blog, beri tahu bahwa Anda memperoleh komisi. Transparansi tidak merusak kepercayaan, tetapi menyembunyikannya justru sebaliknya.

2. Keaslian

Bicaralah berdasarkan pengalaman. Jika suatu produk tidak memenuhi ekspektasi, katakan apa adanya. Jika hasilnya ternyata bagus, jelaskan alasannya. Orang lebih menghargai kejujuran daripada kesempurnaan.

3. Komunikasi yang Mengutamakan Nilai

Fokus pada pemberdayaan pengambilan keputusan yang bijak. Ini bisa berupa rekomendasi produk alternatif, penjelasan kasus penggunaan, atau peringatan tentang produk yang terlalu dibesar-besarkan. Tempatkan kebutuhan pemirsa sebagai pusat dari pemasaran afiliasi Anda.

4. Keseimbangan

Tidak ada produk yang sempurna. Sertakan kelebihan dan kekurangan dalam ulasan Anda. Menampilkan kedua sisi membangun kredibilitas dan, secara ironis, sering kali membuat rekomendasi Anda lebih persuasif.

Intinya: Deinfluencing hanya berhasil jika dibangun di atas kejujuran, empati, dan rasa hormat terhadap pemirsa Anda. Jika pengikut mempercayai penilaian Anda, mereka akan mengikuti saran Anda, bahkan ketika itu mengarah ke tautan afiliasi lain.

Cara Menerapkan Deinfluencing dalam Pemasaran Afiliasi

Lalu bagaimana menerapkan deinfluencing sebagai bagian dari strategi afiliasi tanpa menghancurkan komisi?

Kuncinya adalah beralih dari menjual menjadi memberi saran. Berikut cara melakukannya secara efektif.

1. Buat konten “mengapa Anda tidak membutuhkan ini”

Ulasan jujur bertema “lewati produk ini” sangat kuat karena mematahkan pola penjualan yang biasa. Ketika Anda menjelaskan mengapa sesuatu tidak layak dibeli, dan apa yang lebih baik, kredibilitas langsung meningkat. Dan ya, Anda tetap bisa menautkan pilihan yang lebih baik menggunakan tautan afiliasi Anda.

2. Rekomendasikan alternatif yang lebih baik atau ramah anggaran

Arahkan pemirsa ke opsi yang lebih cerdas. Contoh: “Anda tidak perlu gadget $200 ini: alternatif $80 ini melakukan hal yang sama.”

Kejujuran seperti ini memenangkan loyalitas dan konversi jangka panjang.

3. Gunakan ulasan berbasis data

Dukung opini Anda dengan pengujian nyata, tangkapan layar, atau perbandingan. Tampilkan hasilnya, dan pemirsa akan melihat Anda sebagai ahli yang dapat dipercaya.

4. Dorong pembelian yang lebih sadar

Anda tidak harus membujuk orang agar batal membeli, cukup bantu mereka memperlambat keputusan. Frasa seperti “ambil ini hanya jika…” atau “ini layak untuk tipe pengguna X” membuat saran Anda terdengar tulus dan berfokus pada pemirsa.

5. Selipkan storytelling

Bagikan kesalahan atau penyesalan pembelian Anda sendiri. Orang mudah terhubung dengan kejujuran, dan ini memberi konteks pada rekomendasi Anda.

Format Konten yang Cocok dengan Pendekatan Deinfluencing

Yang membedakan deinfluencing adalah nadanya: jujur lebih penting daripada tampilan yang dipoles. Pendekatan ini bisa diterapkan hampir di mana saja: YouTube, TikTok, blog, bahkan email. Kuncinya tetap autentik dan membantu.

Berikut beberapa format yang secara alami cocok dengan pola pikir deinfluencing.

YouTube & TikTok: Ulasan Video Jujur

Buat video “saya menyesal membeli ini” atau “jangan buang uang Anda untuk…”. Konten seperti ini tampil sangat baik karena orang mendambakan pembicaraan yang apa adanya. Selalu tindak lanjuti dengan alternatif yang lebih baik atau lebih murah agar pesan Anda tetap membantu, bukan sekadar negatif.

Postingan Blog: Perbandingan Nyata dan Ulasan Mendalam

Tulis perbandingan berdampingan seperti “terlalu dibesar-besarkan vs benar-benar berguna” atau “Tabung vs Belanja”. Gunakan metrik yang jelas (kenyamanan, daya tahan, nilai terhadap harga) dan tambahkan tautan afiliasi hanya di bagian yang benar-benar relevan.

Konten Sosial Bentuk Pendek (Reels, Shorts, TikTok)

Video debunk singkat atau klip pembongkaran mitos (misalnya “Anda tidak membutuhkan gadget perawatan kulit ini”) cepat menarik perhatian. Jaga durasi di bawah 30 detik dan buka dengan rasa penasaran atau kejutan.

Newsletter Email: Kejujuran yang Dikurasi

Kirim “pilihan jujur bulan ini” atau “3 produk yang tidak saya rekomendasikan”. Dengan tingkat transparansi seperti ini, pelanggan tetap loyal dan menantikan setiap email.

Podcast atau Sesi Live: Percakapan Asli

Bicarakan secara terbuka tren pemasaran, produk yang terlalu dibesar-besarkan, atau psikologi pembeli. Saat orang mendengar opini autentik Anda secara langsung, otoritas dan brand Anda semakin kuat.

Mempromosikan Konten Afiliasi Autentik melalui Iklan Native

Jika deinfluencing berfokus pada komunikasi yang jujur, maka periklanan native adalah pasangan yang sempurna. Keduanya bertumpu pada kepercayaan, konteks, dan nilai.

Platform iklan native MGID membantu afiliasi meningkatkan skala konten tanpa mengorbankan keaslian. Alih-alih banner mencolok atau CTA “beli sekarang”, penempatan native menyatu secara alami ke dalam feed editorial situs, selaras dengan topik dan niat pembaca.

Berikut cara MGID mendukung kampanye afiliasi bergaya deinfluencing.

  1. Penargetan berbasis konteks: AI MGID mencocokkan konten Anda dengan pemirsa yang sudah tertarik pada topik terkait. Contoh penargetan kontekstual adalah menampilkan iklan yang menyoroti “alternatif ramah anggaran” kepada pengguna yang sedang membaca ulasan atau perbandingan produk.
  2. Integrasi mulus dengan pelacak afiliasi: Dengan postback (S2S) tracking bawaan dan template untuk alat-alat seperti Voluum, Binom, dan RedTrack, afiliasi dapat mengukur secara akurat penempatan mana yang mendorong konversi nyata berbasis kepercayaan.
  3. Tampilan autentik, keterlibatan nyata: Karena iklan native terlihat seperti konten organik, pengguna berinteraksi karena rasa ingin tahu yang tulus. Ini menjadikannya ideal untuk kampanye deinfluencing, di mana kredibilitas dan konteks lebih penting daripada hype.
  4. Terbukti cocok untuk konten panjang: Artikel seperti “5 Produk yang Tidak Layak Dibeli (dan Alternatif yang Lebih Baik)” berkinerja baik di jaringan MGID dan menarik pembaca yang mencari saran.

MGID memberi afiliasi yang terbaik dari dua dunia: traffic yang dapat diskalakan dan format yang dibangun untuk keaslian. Pesan deinfluencing berkembang di sini karena platform ini menghargai storytelling berbasis kepercayaan, bukan clickbait.

Metrik yang Penting untuk Kampanye Deinfluencing

Pada intinya, deinfluencing menempatkan kepercayaan di atas metrik semu. Ketika konten Anda berfokus pada kejujuran dan transparansi, KPI tradisional seperti impresi atau CTR tidak akan memberi gambaran utuh. Sebagai gantinya, perhatikan sinyal yang menunjukkan pengaruh nyata.

  1. Kualitas keterlibatan: Komentar, simpan, dan bagikan lebih penting daripada sekadar like. Jika orang meluangkan waktu untuk berdiskusi, menandai teman, atau menyimpan konten Anda, itu berarti pesan Anda benar-benar beresonansi.
  2. Kualitas konversi: Pemasaran yang jujur menarik pembeli yang lebih baik. Pantau metrik seperti average order value (AOV), lifetime value (LTV), dan tingkat refund. Tingkat refund yang lebih rendah sering kali menandakan pemirsa mempercayai rekomendasi Anda dan puas dengan pembelian mereka.
  3. Analisis sentimen: Perhatikan umpan balik pemirsa. Apakah mereka berterima kasih atas kejujuran Anda? Apakah mereka berkata, “akhirnya ulasan yang benar-benar nyata”? Ini adalah bukti kualitatif dari kepercayaan yang berujung pada potensi konversi yang lebih kuat ke depannya.
  4. Klik berulang dan pengguna kembali: Jika pengguna terus kembali untuk rekomendasi berikutnya, itu tanda jelas kredibilitas Anda meningkat, bersama dengan potensi afiliasi jangka panjang.
  5. Sinyal kepercayaan platform: Algoritma di YouTube, TikTok, dan bahkan jaringan native menghargai keterlibatan yang tulus. Ketika konten Anda mendapat komentar positif dan simpanan, jangkauannya akan meningkat secara organik.

Tantangan dan Pertimbangan Etis

Deinfluencing mungkin terdengar sederhana, tetapi ketika pendapatan afiliasi dipertaruhkan, menjaga keseimbangan antara transparansi dan monetisasi bisa menjadi rumit. Berikut beberapa tantangan yang perlu diperhatikan saat membangun strategi afiliasi yang mengutamakan kepercayaan.

1. Menyeimbangkan Kejujuran dengan Tujuan Monetisasi

Mudah mengatakan “saya hanya mempromosikan yang saya yakini” hingga sebuah penawaran dengan bayaran tinggi masuk ke inbox Anda. Tetap selektif bisa berarti menolak keuntungan jangka pendek demi kredibilitas jangka panjang. Namun, ini adalah trade-off yang layak.

2. Menjaga Kredibilitas saat Menggunakan Tautan Afiliasi

Ya, Anda bisa transparan dan tetap menghasilkan. Kuncinya adalah pengungkapan penuh: jelaskan kepada pemirsa bagaimana tautan afiliasi bekerja dan mengapa Anda memilih produk tertentu. Saat orang merasa terinformasi, mereka tidak keberatan Anda memperoleh komisi.

3. Menghindari Keaslian yang Dipaksakan

“Kejujuran” yang dibuat-buat mudah dikenali. Jika deinfluencing hanya menjadi sudut pemasaran lain (penyesalan yang dilebih-lebihkan, curhat palsu), pemirsa akan segera menyadarinya. Keaslian hanya efektif jika benar-benar tulus.

4. Jebakan “Anti-Ulasan”

Kritik memang mendorong klik, tetapi sikap terlalu negatif atau clickbaity (“Produk ini sampah!”) bisa berbalik merugikan. Tujuan deinfluencing adalah mengangkat brand yang lebih baik, bukan menjatuhkan semuanya.

5. Menjaga Konsistensi

Begitu Anda memosisikan diri sebagai suara kejujuran, setiap konten ke depan harus selaras dengan nada tersebut. Ketidakkonsistenan, seperti tiba-tiba mempromosikan produk berkualitas rendah yang jelas, dapat merusak kredibilitas berbulan-bulan dalam semalam.

Prospek Masa Depan: Keaslian sebagai Tuas Pertumbuhan Baru

Era berikutnya dari pemasaran afiliasi ditentukan oleh kepercayaan dan transparansi. Seiring pemirsa semakin skeptis terhadap influencer yang terlalu dipoles dan rekomendasi seragam, keaslian dengan cepat berubah dari sekadar nilai tambah menjadi keunggulan pertumbuhan yang nyata.

Perubahan ini sudah terlihat: kreator mikro dan reviewer niche mengungguli nama-nama besar karena pengikut mereka benar-benar percaya. Mereka membentuk opini sama kuatnya dengan memengaruhi pembelian.

Dalam beberapa tahun ke depan, perkirakan akan muncul:

  • Komunitas yang lebih kecil dan solid yang dibangun di atas nilai bersama
  • Konten afiliasi menyatu dengan user-generated content (UGC): orang nyata berbagi pengalaman jujur
  • Brand memberi penghargaan pada transparansi karena kredibilitas mendorong konversi berkualitas lebih tinggi
  • Personalisasi berbasis data yang menyelaraskan suara autentik dengan pemirsa yang tepat, didukung atribusi yang lebih cerdas dan pelacakan pihak pertama

Masa depan milik afiliasi yang dipercaya dan diyakini pemirsanya. Deinfluencing mengembalikan pemasaran pada hal yang paling penting: rasa hormat terhadap pemirsa.

FAQ

Apa itu deinfluencing dalam pemasaran?

Deinfluencing adalah kebalikan dari influencing tradisional: pendekatan ini mendorong konsumen berpikir kritis dan menghindari pembelian yang terlalu dibesar-besarkan atau tidak perlu.

Bagaimana afiliasi dapat menggunakan deinfluencing?

Dengan membuat konten jujur yang membandingkan produk, mengakui kekurangan, dan merekomendasikan alternatif yang lebih baik, afiliasi dapat membangun kepercayaan dan loyalitas jangka panjang.

Apakah deinfluencing buruk untuk penjualan afiliasi?

Tidak. Justru dapat meningkatkan konversi karena pemirsa lebih cenderung membeli dari sumber yang mereka percayai.

Jenis konten apa yang paling efektif untuk deinfluencing?

Ulasan jujur, perbandingan produk, kritik TikTok/YouTube, dan artikel “apa yang tidak perlu dibeli” berkinerja baik.

Apakah deinfluencing bisa dipromosikan melalui iklan?

Ya. Jaringan iklan native seperti MGID membantu mendistribusikan konten autentik bergaya ulasan kepada pemirsa yang mencari transparansi dan nilai.

Langkah Paling Kuat: Mengubah Kejujuran Menjadi Konversi

Di saat segala sesuatu dibangun di atas hype, kejujuran menjadi strategi paling berani. Deinfluencing mendefinisikan ulang pemasaran afiliasi untuk era yang lebih jujur. Ketika Anda berhenti mendorong dan mulai membimbing, pemirsa berhenti sekadar scroll dan mulai percaya. Kepercayaan itulah yang menggerakkan konversi jangka panjang, pengikut setia, dan pengaruh nyata.

Alih-alih bertanya, “Bagaimana saya bisa menjual lebih banyak?”, mulailah bertanya, “Bagaimana saya bisa membantu dengan lebih baik?” Kesuksesan afiliasi tidak lagi soal diskon terbesar atau kampanye paling mencolok. Ini tentang membangun kepercayaan—jenis kepercayaan yang membuat orang mendengarkan, bertindak, dan kembali lagi. Pada akhirnya, penawaran akan berakhir. Kepercayaan tidak.